<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Arief Munandar</title>
	<atom:link href="http://ariefmunandar.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ariefmunandar.com</link>
	<description>Leadership Inspirer</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 10:00:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>How You Think, is How You Act, is Who You Are  (Bagian 1)</title>
		<link>http://ariefmunandar.com/archives/872</link>
		<comments>http://ariefmunandar.com/archives/872#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Mar 2010 17:40:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[Published]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariefmunandar.com/?p=872</guid>
		<description><![CDATA[“Pemimpin yang baik dan mengerti arah perubahan, akan memimpin dengan contoh. Ia berada di depan, berkorban demi kebaikan. Ia mengajak yang lain berkorban, tanpa harus merasa susah.” –Rhenald Kasali– Suatu pagi tiba-tiba masuk sebuah SMS dari seorang sahabat. Ia mengajukan pertanyaan, ”Mengapa para motivator, trainer, dan konsultan, tidak menjadi pemimpin besar dunia yang membuat perubahan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align: center;"><em><span style="color: #000000;"><strong>“Pemimpin yang baik dan mengerti arah perubahan, akan memimpin dengan contoh.</strong></span></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><span style="color: #000000;"><strong>Ia berada di depan, berkorban demi kebaikan. </strong></span></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><span style="color: #000000;"><strong>Ia mengajak yang lain berkorban, tanpa harus merasa susah.”</strong></span></em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #000000;"><strong>–Rhenald Kasali–</strong></span></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Suatu pagi tiba-tiba masuk sebuah SMS dari seorang sahabat. Ia mengajukan pertanyaan, </span><em><span style="color: #000000;">”Mengapa para motivator, trainer, dan konsultan, tidak menjadi pemimpin besar dunia yang membuat perubahan besar untuk kesejahteraan umat manusia, mengukir sejarah? Mereka asyik saja memotivasi orang dan bicara banyak tentang leadership, tanpa menjadi pelaku utama”. </span></em><span style="color: #000000;"> Dug! Karena profesi saya trainer dan konsultan, dan dalam banyak kesempatan diminta menjadi motivator, pertanyaan tersebut lumayan menohok saya, namun di sisi lain juga memaksa saya berpikir untuk menemukan jawabannya.<span id="more-872"></span><br />
</span></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Motivator, trainer, dan konsultan, sebagaimana juga dokter, pengacara, presiden, gubernur, ketua parpol, dan anggota legislatif, adalah profesi. Sementara pemimpin, </span><em><span style="color: #000000;">leader</span></em><span style="color: #000000;">, bukanlah profesi, melainkan </span><strong><span style="color: #000000;">peran</span></strong><span style="color: #000000;"> dan sekaligus </span><strong><span style="color: #000000;">kualitas personal</span></strong><span style="color: #000000;"> seseorang. Implikasinya, seorang presiden, gubernur, maupun ketua parpol belum tentu pemimpin. Sebaliknya, seorang konsultan, dokter, atau pengacara belum tentu bukan pemimpin. Walaupun memang ada profesi tertentu yang sebenarnya menuntut kapasitas kepemimpinan – kemampuan menjalankan peran sebagai pemimpin dan kualitas personal sebagai pemimpin – yang relatif lebih tinggi dibandingkan profesi lainnya.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Mari kita lihat </span><em><span style="color: #000000;">leader</span></em><span style="color: #000000;"> sebagai peran. Sebuah peran ditunjukkan oleh sekumpulan perilaku yang memiliki pola tertentu. Jangan dilupakan formula dasar bahwa perilaku adalah fungsi – refleksi, akibat – dari pola pikir. Ingat kembali hubungan: </span><em><span style="color: #000000;">how you think is how you act, is who you are</span></em><span style="color: #000000;">. Dalam konteks ini seseorang disebut </span><em><span style="color: #000000;">leader</span></em><span style="color: #000000;"> karena ia berperilaku </span><em><span style="color: #000000;">leader</span></em><span style="color: #000000;">, yang merupakan dampak dari pola pikir </span><em><span style="color: #000000;">leader</span></em><span style="color: #000000;"> pula.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Bagaimana seorang </span><em><span style="color: #000000;">leader</span></em><span style="color: #000000;"> berpikir? </span><em><span style="color: #000000;">Leader</span></em><span style="color: #000000;"> berpikir bagaimana menghadapi, dan bahkan memenangkan perubahan. Bagaimana organisasinya atau masyarakatnya dapat meniti gelombang turbulensi, dan bukan sekedar selamat, namun juga mampu melompat ke jenjang yang lebih tinggi. </span><em><span style="color: #000000;">Leader</span></em><span style="color: #000000;"> menyadari bahwa agar tak tergulung oleh perubahan ia harus punya visi yang jelas, yang kemudian di-</span><em><span style="color: #000000;">buy in</span></em><span style="color: #000000;"> oleh para pengikutnya, sehingga kemudian menjadi </span><em><span style="color: #000000;">shared-vision</span></em><span style="color: #000000;">, visi bersama. Visi yang jelas itu membuat </span><em><span style="color: #000000;">leader</span></em><span style="color: #000000;"> tahu pasti apa yang harus dilakukan, dan mengapa hal tersebut harus dilakukan, walaupun sangat mungkin ia membutuhkan bantuan orang lain untuk mengelola kompleksitas yang timbul sebagai dampak gelombang turbulensi dengan menyusun rencana bagaimana mobilisasi sumberdaya harus dilakukan dan anggaran keuangan yang menjadi konsekuensinya.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Di sinilah titik beda yang membuat pemimpin menjadi begitu unik. </span><em><span style="color: #000000;">Leader</span></em><span style="color: #000000;"> berorientasi ke masa depan </span><em><span style="color: #000000;">(one day)</span></em><span style="color: #000000;"> di suatu tempat yang sama sekali berbeda </span><em><span style="color: #000000;">(be somewhere)</span></em><span style="color: #000000;">, bukan sekedar </span><em><span style="color: #000000;">re-inventing the wheel</span></em><span style="color: #000000;">, berkubang dengan problematika klasik yang dari itu ke itu juga. Ia sangat berani bermimpi menembus batas realitas, karena ia menghayati bahwa menciptakan masa depan – </span><em><span style="color: #000000;">learning from the future –</span></em><span style="color: #000000;"> adalah tugasnya. Bagi pemimpin sejati, sejarah dan kekinian adalah guru dan pemberi peringatan agar tak mengulangi kebodohan yang pernah terlanjur dibuat, terperosok ke dalam lubang yang sama, namun sama sekali bukan koridor pembatas, apalagi belenggu pemasung kemerdekaan berpikir dan bermimpi.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Bermimpi adalah kompetensi yang mutlak dimiliki seorang </span><em><span style="color: #000000;">leader</span></em><span style="color: #000000;">. Bukan sekedar bermimpi, namun melakukan visualisasi dalam pikiran sedemikian rupa sehingga mencapai titik disosiasi. Disosiasi adalah sebuah kondisi di mana kita seolah-olah melihat rekaman video tentang mimpi kita – lengkap dengan gambar, suara, dan sensasi rasa </span><em><span style="color: #000000;">(visual, auditory, kinesthetic)</span></em><span style="color: #000000;"> – di mana kita melihat diri kita sendiri dalam film itu sebagai aktor utamanya. Disosiasilah yang membuat otak dan pikiran kita “tertipu”, merekam imajinasi itu, mimpi kita, sebagai realita, sehingga menjadi referensi yang sangat kuat, dan pada gilirannya mampu menciptakan </span><em><span style="color: #000000;">sense of certainty</span></em><span style="color: #000000;">, rasa pasti, yang membangun keyakinan kita, </span><em><span style="color: #000000;">belief, </span></em><span style="color: #000000;"> terhadap visi itu. Dan jangan lupa, </span><em><span style="color: #000000;">sense of certainty,</span></em><span style="color: #000000;"> </span><em><span style="color: #000000;">belief,</span></em><span style="color: #000000;"> merupakan perintah mutlak, </span><em><span style="color: #000000;">unquestioned command</span></em><span style="color: #000000;">, terhadap sistem saraf dan proses-proses biokimia dalam tubuh kita, yang pada gilirannya akan membangunkan seluruh potensi tak terbatas yang sebelumnya lelap tertidur.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Ada cerita kecil tentang ini.  Konon, dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan, sepuluh ekor anak kodok menggagas lomba memanjat menara. Karena penasaran khalayak ramai berkerumun menyaksikan lomba yang tak lazim itu.  Mereka bertepuk dan bersorak-sorai, namun sejatinya bukan memotivasi, bahkan kebalikannya, mengejek dan menafikkan kemungkinan kesepuluh anak kodok itu akan berhasil.  Benar juga apa kata penonton, satu demi satu anak-anak kodok itu tergelincir jatuh.  Teriakan penonton semakin brutal, dan kian banyak pula peserta lomba yang terpeleset dan gagal.  Namun tunggu dulu. Ada satu anak kodok yang bergeming. Sama sekali tak terpengaruh!  Ia terus merayap menunju puncak menara.  Perlahan tapi pasti. Dan akhirnya &#8230; dia berhasil!  Maka penontonpun heran.  Mereka mencoba mencari tahu mengapa anak kodok yang satu ini sukses mencapai puncak.  Masya Allah, ternyata dia &#8230; tuli!</span></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Kesimpulannya, kalau mau berhasil jadilah pemimpin yang ”tuli”.  Tuli terhadap seruan negatif para provokator!  Sekali anda punya niat baik, punya mimpi besar untuk mengubah diri dan dunia di sekitar anda, fokuskan pandangan ke depan, mantapkan hati, busungkan dada, bermunajat mohon pertolongan dan penjagaan Allah SWT, lalu &#8230; melangkahlah!</span><em><span style="color: #000000;"> ”&#8230;Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepadaNya” </span></em><span style="color: #000000;">(QS. Ali ’Imran: 159).</span></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Godaan paling klasik dari para provokator itu adalah cercaan bahwa impian kita tidak realistik.  Impian memang mestilah tak realistik saat ini, di sini, bagi orang-orang yang tak mempercayainya.  Bahkan, sebenarnya dalam hidup kita tak pernah sunguh-sungguh mengalami apa yang disebut ”realita”, karena yang kita alami adalah persepsi kita tentang realita.  Jika tidak hati-hati, yang kita sebut realita akan lebih banyak menjadi jeruji besi pemasung cita-cita.  Dan lebih lanjut, pada titik inilah seorang pemimpin sejati menjadi begitu berbeda: keyakinannya terhadap sebuah impian yang hebat, </span><em><span style="color: #000000;">sense of certainty-</span></em><span style="color: #000000;">nya, membuatnya mampu mencapai apa yang dianggap tidak realistik oleh orang lain. Dalam sebuah pertempuran, seorang sahabat Nabi SAW dengan semangat menggebu memacu kuda tunggangannya teramat cepat, sampai-sampai sahabat yang lain bertanya apa yang mendorongnya berbuat demikian.  Sahabat itu menjawab, </span><em><span style="color: #000000;">”Wahai sahabatku, aku mencium bau surga di hadapanku.”</span></em><span style="color: #000000;"> Subhanallah!  Surga sudah menjadi realita dalam indera </span><em><span style="color: #000000;">gustatory</span></em><span style="color: #000000;"> (penciuman) sahabat tersebut, menjadi </span><em><span style="color: #000000;">unquestioned command</span></em><span style="color: #000000;">, ledakan energi luar biasa yang memacu dirinya menggempur musuh untuk mencapai tujuannya: surga!</span></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Dan dalam konteks bangsa kita, ketika ”realita” menunjukkan bahwa prestasi olahragawan kita terus meluncur di bawah titik nol, bahkan di ajang semungil SEA Games, sementara prestasi korupsi kita kian menjulang, </span><em><span style="color: #000000;">human development index </span></em><span style="color: #000000;">kita semakin babak belur, dan beragam bencana kian seru menggempur, pemimpin yang punya kompetensi </span><em><span style="color: #000000;">to learn from the future,</span></em><span style="color: #000000;"> atau meminjam istilah Rhenald Kasali, mampu me-</span><em><span style="color: #000000;">re-code</span></em><span style="color: #000000;"> dirinya, merupakan </span><em><span style="color: #000000;">necessary condition,</span></em><span style="color: #000000;"> prasyarat yang pantang ditawar untuk bangkit. Dia adalah seorang pemimpin dengan visi besar, </span><em><span style="color: #000000;">”terbentuknya Indonesia baru yang adil, sejahtera, dan bermartabat, serta karunia dari Allah Pencipta alam semesta”</span></em><span style="color: #000000;">.</span></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariefmunandar.com/archives/872/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>How You Think, is How You Act, is Who You Are  (Bagian 2)</title>
		<link>http://ariefmunandar.com/archives/870</link>
		<comments>http://ariefmunandar.com/archives/870#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Mar 2010 17:38:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[Published]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariefmunandar.com/?p=870</guid>
		<description><![CDATA[“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menyertaimu” –Alm. Rahmat Abdullah– Setiap orang yang belajar finance kenal sepuluh aksioma dasar.  Salah satunya tentang risk and return trade-off, yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align: center;"><em><strong><span style="color: #000000;">“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.</span></strong></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><strong><span style="color: #000000;"> Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.</span></strong></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><strong><span style="color: #000000;">Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.</span></strong></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><strong><span style="color: #000000;">Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.</span></strong></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><strong><span style="color: #000000;">Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menyertaimu”</span></strong></em><strong><span style="color: #000000;"><em></em></span></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="color: #000000;">–Alm. Rahmat Abdullah–</span></strong></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Setiap orang yang belajar </span><em><span style="color: #000000;">finance</span></em><span style="color: #000000;"> kenal sepuluh aksioma dasar.  Salah satunya tentang </span><em><span style="color: #000000;">risk and return trade-off, </span></em><span style="color: #000000;">yang mengatakan: </span><em><span style="color: #000000;">Low risk, low return. High risk, high return. </span></em><span style="color: #000000;">Kalau boleh disambung, </span><em><span style="color: #000000;">no risk, </span></em><span style="color: #000000;">ya </span><em><span style="color: #000000;">no return.</span></em><span style="color: #000000;"> Visi, mimpi, </span><em><span style="color: #000000;">creating the future</span></em><span style="color: #000000;">, </span><em><span style="color: #000000;">out-of-the box thinking</span></em><span style="color: #000000;">, keluar dari </span><em><span style="color: #000000;">comfort zone</span></em><span style="color: #000000;">, berpikir “bandel”, memang punya risiko, punya ketidakpastian yang sangat besar.  Tapi kembali, di situlah bedanya </span><em><span style="color: #000000;">leader</span></em><span style="color: #000000;"> dengan orang kebanyakan: </span><em><span style="color: #000000;">leader</span></em><span style="color: #000000;"> adalah </span><em><span style="color: #000000;">risk-taker,</span></em><span style="color: #000000;"> sementara </span><em><span style="color: #000000;">common people</span></em><span style="color: #000000;"> cenderung </span><em><span style="color: #000000;">risk-avoider</span></em><span style="color: #000000;">.<span id="more-870"></span><br />
</span></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Ibarat atlet, </span><em><span style="color: #000000;">leader</span></em><span style="color: #000000;"> adalah pelari maraton, bukan sprinter.  Orientasi, sekaligus kriteria suksesnya diletakkan dalam</span><em><span style="color: #000000;"> time frame</span></em><span style="color: #000000;"> yang panjang </span><em><span style="color: #000000;">(longer term)</span></em><span style="color: #000000;">, jauh di depan.  Pemimpin sejati bukanlah manusia instan yang tergiur oleh ”sukses” remeh-temeh berjangka pendek, yang bisa jadi justru merupakan virus atau rayap yang pelan-pelan menggerogoti fondasi bangunan masa depan. Hari esok.  Bahkan hari esok yang sangat jauh di depan dan abadi:  akhirat.  Di sanalah pemimpin sejati menitipkan harapannya. </span><em><span style="color: #000000;">”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kami kerjakan” </span></em><span style="color: #000000;">(QS. Al Hasyr: 18).</span></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Visi akhirat membuat pemimpin menjadi cerdas menata kekiniannya, langkah-langkahnya, utilisasi sumber dayanya.  Visi akhirat pula yang membuat pemimpin sejati teguh-kukuh dan tak kenal kalah, apalagi patah.  Luka-luka akibat terantuk cadas, bahkan yang paling parah sekalipun, dilihat sebagai lecet-lecet kecil yang akan terobati oleh waktu, dan sama sekali tak membuat surut.  Visi akhirat juga membuat pemimpin tak punya kata ”puas” dalam kamus hidupnya.  Ia terus beramal.  Terus berbuat.  Tak pernah berpikir untuk berhenti dan berleha-leha menikmati ”gula-gula” jangka pendek, karena ia tahu betul bukan itu yang ia mau.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Itulah </span><em><span style="color: #000000;">the power of  vision!</span></em><span style="color: #000000;"> Visi hebat yang menjangkau jauh ke depan membuat masalah, kendala, dan kesulitan hanya kerikil-kerikil kecil yang tak berarti. </span><em><span style="color: #000000;">The true leader</span></em><span style="color: #000000;"> berpikir, kalaulah dalam perjalanan menggapai mimpi itu saya menderita sakit, Allah akan menyembuhkan saya. Kalaulah saya jatuh, dengan pertolongan Allah saya akan bangun lagi. Jika saya kalah, itu tak akan selamanya. </span><em><span style="color: #000000;">”Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikanNya gugur sebagai syuhada.  Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim, dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir” </span></em><span style="color: #000000;">(QS. Ali ”Imran: 140-141). </span><em><span style="color: #000000;">So, no big deal!</span></em></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Pemimpin sejati memang </span><em><span style="color: #000000;">istiqamah</span></em><span style="color: #000000;"> dan disiplin.  Ia konsisten, konsekuen, dan presisten terhadap visinya. Tak mau kompromi.  Enggan ditawar.  Namun, ia inovatif dan berani mengambil risiko dalam cara.  Ada fleksibilitas yang luar biasa dalam mencari solusi.  Ada </span><em><span style="color: #000000;">conviction</span></em><span style="color: #000000;"> bahwa untuk menjadi </span><em><span style="color: #000000;">leader</span></em><span style="color: #000000;"> yang sukses bukan berarti tak boleh gagal, melainkan harus melihat hasil yang tak sesuai dengan harapan sebagai bagian dari proses pembelajaran, sebagai </span><em><span style="color: #000000;">feedback</span></em><span style="color: #000000;">, sebagai sinyal keharusan untuk berganti cara.  Ketika pemimpin sejati terantuk sebuah tembok penghalang, bukan cita-citanya yang ia kesampingkan, melainkan strateginya yang ia ubah.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Anda suka bergunjing?  Kalau ya, artinya anda belum cukup </span><em><span style="color: #000000;">qualified</span></em><span style="color: #000000;"> untuk menjadi pemimpin.  Lho kok? Terlepas dari masalah bahwa bergunjing itu dosa, pergunjingan biasanya berisi masalah.  Semua peserta majelis pergunjingan dengan penuh semangat menyoroti masalah, bahkan membesar-besarkan masalah, dengan menambahkan aneka bumbu penyedap rasa. </span><em><span style="color: #000000;">”Abis &#8230;, soalnya &#8230;, masalahnya &#8230;,”</span></em><span style="color: #000000;"> demikian kira-kira redaksi kalimat para penggunjing itu. Tak ada yang bicara solusi. Bahkan tak ada yang berharap ada solusi. Mohon dicatat: </span><em><span style="color: #000000;">leader</span></em><span style="color: #000000;"> berpikir tentang solusi, bukan tentang masalah. </span><em><span style="color: #000000;">”Bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kamu apa telah kamu kerjakan” </span></em><span style="color: #000000;">(QS. At Taubah: 105).  Jadi, cuma ada tiga kata kunci. Pertama, </span><em><span style="color: #000000;">action! </span></em><span style="color: #000000;"> Kedua, juga </span><em><span style="color: #000000;">action!</span></em><span style="color: #000000;"> Dan ketiga, jangan berhenti </span><em><span style="color: #000000;">action!</span></em></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariefmunandar.com/archives/870/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>How You Think, is How You Act, is Who You Are (Bagian 3)</title>
		<link>http://ariefmunandar.com/archives/861</link>
		<comments>http://ariefmunandar.com/archives/861#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Mar 2010 17:27:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[Published]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariefmunandar.com/?p=861</guid>
		<description><![CDATA[”Dan adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya. Adapun yang memberi manfaat kepada manusia maka ia akan tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan–perumpamaan.” –Al Quran, Surat Ar Ra’ad: 17– Sekarang mari kita soroti karakteristik lain dari pola pikir seorang pemimpin dengan sebuah cerita lainnya. Sekitar pukul delapan malam seorang wanita, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align: center;"><em><strong><span style="color: #000000;">”Dan adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya.</span></strong></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><strong><span style="color: #000000;">Adapun yang memberi manfaat kepada manusia maka ia akan tetap di bumi.</span></strong></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><strong><span style="color: #000000;">Demikianlah Allah membuat perumpamaan–perumpamaan.”</span></strong></em></p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="color: #000000;">–Al Quran, Surat Ar Ra’ad: 17–</span></strong></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Sekarang mari kita soroti karakteristik lain dari pola pikir seorang pemimpin dengan sebuah cerita lainnya. Sekitar pukul delapan malam seorang wanita, Sales Manager handal, masih menyelesaikan sejumlah </span><em><span style="color: #000000;">paper works</span></em><span style="color: #000000;"> di meja kerjanya.  Tak sengaja sang CEO melintas dan menghampirinya.  Ia tak mengenal wanita itu, karena sebagai perusahaan besar di sana ada puluhan Sales Manager.  Diajaknya wanita itu berbincang-bincang mengenai berbagai topik ringan yang tak berhubungan dengan pekerjaan.  Dari obrolan itu dia tahu bahwa hari ini merupakan hari kerja terakhir wanita itu. Dia sudah mengajukan pengunduran diri karena sebentar lagi akan melahirkan anaknya yang ketiga dan telah memutuskan untuk menjadi ibu rumahtangga purna waktu.  Tak sampai 20 menit obrolan itu berakhir. Mereka berjabat tangan, dan CEO mengantarkan Sales Manager itu hingga ke pintu lift.  Sebelum berpisah CEO meminta Sales Manager itu menghubunginya secara pribadi jika di kemudian hari mendapat kesulitan.</span><span id="more-861"></span><span style="color: #000000;"><span style="color: #000000;"><br />
</span> </span></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Setahun-dua tahun kemudian karena berbagai sebab perusahaan itu mengalami kemunduran yang hebat. Klien-klien besar meninggalkan mereka, sehingga kelangsungan hidup perusahaan berada di ujung tanduk. Sales Manager handal yang sudah hidup tenang dan tenteram bersama keluarganya itu membaca kabar sedih mengenai perusahaan bekas tempatnya bekerja di sebuah majalah bisnis.  Serta-merta dia kembali ke perusahaan itu, bekerja luar biasa keras, dan kemudian mampu membantu proses </span><em><span style="color: #000000;">recovery</span></em><span style="color: #000000;"> yang akhirnya membawa mereka kembali mendekati puncak.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Tidak berapa lama setelah itu wartawan majalah bisnis mewawancarainya.  Pertanyaannya seputar motvasi apa yang mendorong dirinya membatalkan keputusan menjadi ibu rumahtangga, dan kembali ke perusahaannya justru pada saat mereka terpuruk.  Bahkan kepadanya ditanyakan, </span><em><span style="color: #000000;">”Berapa kali lipat gaji yang ditawarkan pada anda dibandingkan saat anda dulu keluar, sampai-sampai anda tergiur untuk kembali di saat sulit?” </span></em><span style="color: #000000;">Wanita itu menggeleng dan berkata, </span><em><span style="color: #000000;">”Anda salah. Sama sekali salah. Saat itu justru mereka hanya mampu membayar sepertiga dari gaji terakhir saya.” </span></em><span style="color: #000000;">Wartawan itu terheran-heran. Tutur wanita itu selanjutnya, </span><em><span style="color: #000000;">”Namun saya teringat percakapan dengan CEO saya di malam terakhir saya bekerja. Dengan tulus dia ingin tahu keadaan bayi yang saya kandung.  Bahkan dia bertanya apa jenis kelaminnya, dan apakah saya sudah punya nama untuknya. Dan sesaat sebelum saya pulang, dia menawarkan bantuan jika di kemudian hari saya mendapat kesulitan. Dan anehnya, saya yakin yang berbicara adalah hatinya.  Itulah yang membuat saya kembali.  Karena saya yakin di matanya, dan di mata perusahaan ini, saya adalah manusia &#8230;”</span></em></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Terlepas bahwa ia seorang nabi dan rasul, mengapa Muhammad SAW menjadi sosok pemimpin terhebat dalam sejarah?  Karena ia mampu menyentuh hati manusia. Tengoklah misalnya bagaimana ia menaklukkan hati sahabat-sahabat Anshar ketika mereka menggugat pembagian harta rampasan perang pasca penaklukkan Mekah yang mereka anggap tidak adil dengan melakukan komparasi yang luar biasa: </span><em><span style="color: #000000;">ketika tokoh-tokoh Quraisy pulang dengan membawa ratusan ekor unta dan beragam harta lainnya, kaum Anshar pulang dengan membawa Nabi mereka.</span></em><span style="color: #000000;"> Maka luluhlah hati sahabat-sahabat Anshar, dan mengalirlah air mata mereka dengan derasnya. Subhanallah!  Atau perhatikan pula bagaimana seluruh sahabat merasa bahwa diri mereka masing-masing adalah orang yang paling dekat dengan Nabi SAW.  Hal ini menunjukkan bagaimana Muhammad SAW memiliki punya kepedulian pada manusia </span><em><span style="color: #000000;">(people care)</span></em><span style="color: #000000;"> yang luar biasa.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Nyatalah bahwa kepedulian yang mendalam terhadap manusia merupakan karakteristik berikutnya yang melekat pada pola pikir seorang pemimpin sejati, selain orientasi pada </span><em><span style="color: #000000;">change</span></em><span style="color: #000000;"> dan </span><em><span style="color: #000000;">transformation</span></em><span style="color: #000000;"> yang sudah dibahas sebelumnya. </span><em><span style="color: #000000;">People care</span></em><span style="color: #000000;"> berarti juga kesediaan untuk menangani keunikan, kompleksitas, dan ketakterdugaan yang melekat pada manusia. Pemimpin berpikir bahwa </span><em><span style="color: #000000;">system and structure follow the people,</span></em><span style="color: #000000;"> sehingga ia lebih memfokuskan waktu, energi, dan sumberdaya lainnya untuk membangun hubungan yang bermakna, mendalam, dan berjangka panjang dengan manusia, memotivasi dan menginspirasi mereka, membangun dan memperkuat komitmen mereka, ketimbang sekedar melakukan </span><em><span style="color: #000000;">short cut</span></em><span style="color: #000000;"> untuk mengelola mereka dengan menempatkan para pengikutnya dalam kotak-kotak diagram organisasi, aturan, dan </span><em><span style="color: #000000;">job description</span></em><span style="color: #000000;">.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><em><span style="color: #000000;">Leader</span></em><span style="color: #000000;"> percaya penuh bahwa pendekatan yang tepat akan memicu aktualisasi puncak-puncak talenta para pengikutnya, sehingga </span><em><span style="color: #000000;">empowerment</span></em><span style="color: #000000;">, pemberdayaan, menjadi kredo yang sangat diyakininya.  Kesediaan memberdayakan berarti kesediaan untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan, secara cerdas mendelegasikan kewenangan yang dimiliki, serta membuka akses terhadap berbagai sumberdaya yang dibutuhkan untuk mengembangkan diri.  Semuanya atas dasar saling percaya dan hormat, serta terlebih lagi, ketulusan dan kebersihan hati. Dalam kedisiplinan dan konsistensinya terhadap visi, pemimpin menyediakan ruang yang luas bagi para pengikutnya untuk bebas, merdeka, kreatif, serta berani mengambil risiko untuk berbuat kesalahan.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Lebih lanjut Jim Collins menggambarkan hal ini sebagai prinsip </span><em><span style="color: #000000;">first who, then what</span></em><span style="color: #000000;"> yang membedakan seorang </span><em><span style="color: #000000;">great leader,</span></em><span style="color: #000000;"> pemimpin jenjang kelima, dengan pemimpin model </span><em><span style="color: #000000;">”a genius with a thousand helpers”.</span></em><span style="color: #000000;"> Pemimpin jenjang kelima secara konsisten memulai sebuah transformasi dengan memastikan bahwa hanya orang-orang yang tepat yang berada dalam bus, dan sebaliknya, memastikan mereka yang tidak tepat dikeluarkan atau keluar dari bus. Dan kriteria yang ia gunakan dalam menentukan </span><em><span style="color: #000000;">”right persons”</span></em><span style="color: #000000;"> lebih menitikberatkan pada kualitas manusianya, yaitu modal spiritualnya, ketimbang pengetahuan dan keterampilan khusus yang relatif mudah dipelajari. Dampaknya, </span><em><span style="color: #000000;">the right persons</span></em><span style="color: #000000;"> mampu terus menggulirkan transformasi, walaupun sang pemimpin sudah tak lagi bersama mereka.  Sebaliknya, </span><em><span style="color: #000000;">a genius with a thousand helpers</span></em><span style="color: #000000;"> cenderung memilih orang-orang berbakat yang diyakini dapat membantu dirinya mencapai visinya.  Biasanya para </span><em><span style="color: #000000;">helpers</span></em><span style="color: #000000;"> ini – betapapun berbakatnya mereka – menjadi lumpuh atau kocar-kacir pada saat sang genius pergi.</span></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariefmunandar.com/archives/861/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>How You Think, is How You Act, is Who You Are (Bagian 4)</title>
		<link>http://ariefmunandar.com/archives/280</link>
		<comments>http://ariefmunandar.com/archives/280#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 18:19:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[Published]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariefmunandar.com/?p=280</guid>
		<description><![CDATA[“Kasih Ibu kepada beta. Tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi. Tak harap kembali. Bagai sang surya menyinari dunia.” –Syair lagu ”Kasih Ibu”– Sudah dua kata kunci dari pola pikir pemimpin, leader’s mind-set, yang kita kupas: change dan people.  Kata kunci yang ketiga adalah benefit, contribution, and responsibility.  Kalau ditanya, siapakah sosok yang paling berarti dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align: center;"><em><strong><span style="color: #000000;">“Kasih Ibu kepada beta</span></strong></em><em><strong><span style="color: #000000;">. Tak terhingga sepanjang masa.<br />
Hanya memberi. Tak harap kembali.<br />
Bagai sang surya menyinari dunia.”</span></strong></em></p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="color: #000000;">–Syair lagu ”Kasih Ibu”–</span></strong></p>
<p><span style="color: #000000;">Sudah dua kata kunci dari pola pikir pemimpin, </span><em><span style="color: #000000;">leader’s mind-set</span></em><span style="color: #000000;">, yang kita kupas: </span><em><span style="color: #000000;">change</span></em><span style="color: #000000;"> dan </span><em><span style="color: #000000;">people</span></em><span style="color: #000000;">.  Kata kunci yang ketiga adalah </span><em><span style="color: #000000;">benefit, contribution, and responsibility</span></em><span style="color: #000000;">.  Kalau ditanya, siapakah sosok yang paling berarti dalam hidup anda, mungkin sekali sebagian besar akan menjawab: ibu.  Mengapa?  Lagu berjudul ”Kasih Ibu” memberikan jawabannya: </span><em><span style="color: #000000;">”Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi. Tak harap kembali. Bagai sang surya menerangi dunia”.</span></em><span style="color: #000000;"> Ibu memang sosok yang luar biasa: dekat di hati, namun juga sangat kita segani, karena ia terus memberi dengan ikhlas kepada kita.  Akumulasi saham kebaikannya tak ternilai.  Implikasinya sungguh luar biasa.  Jangankan ia berkata-kata.  Bahkan perubahan raut mukanyapun cukup untuk menggetarkan sanubari kita.<span id="more-280"></span><br />
</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><br />
</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Jadi </span><em><span style="color: #000000;">corollary </span></em><span style="color: #000000;">yang berlaku sungguh jelas.  Pemimpin memberi, bukan pemimpin meminta.  Pemimpin berkontribusi, bukan pemimpin mengambil.  Pemimpin berpikir bagaimana dirinya bermanfaat untuk orang lain, bukan pemimpin berpikir bagaimana dia bisa memanfaatkan orang lain.  Pemimpin bertanggungjawab, bukan pemimpin menghindari tanggungjawab. </span><em><span style="color: #000000;">True leader</span></em><span style="color: #000000;"> berpikir, </span><em><span style="color: #000000;">“Apalagi yang dapat saya lakukan, agar orang-orang yang saya pimpin, agar lingkungan di mana saya hidup, menjadi lebih baik”, </span></em><span style="color: #000000;">sebagaimana Nabi SAW yang hanya mengulang-ulang satu kata, </span><em><span style="color: #000000;">“Ummatiii &#8230; ummatiii &#8230; ummatii &#8230;”</span></em><span style="color: #000000;"> dalam rintihan lirih di penghujung hayatnya. Sebagaimana juga telah diabadikan dalam kalam Illahi: </span><em><span style="color: #000000;">“Sesungguhnya sudah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min” </span></em><span style="color: #000000;">(QS. At Taubah: 128).</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><br />
</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Pemimpin sejati, berdiri di muka barisan pada saat bahaya menghadang dan kesulitan mendera.  Ia paling dulu merasakan penderitaan, kalaulah itu suratan takdir bagi kaumnya.  Namun ia akan berdiri di penghujung barisan pada saat mengecap kenikmatan.  Ia yang terakhir makan setelah memastikan para pengikutnya kenyang.  Ia tak mau menyakiti perasaan kaumnya dengan menghiasi dirinya dengan atribut-atribut kemewahan dan keberlimpahan, sementara mereka masih terpuruk dalam kemiskinan.  Hatinya turut menangis, ketika pengikutnya sakit atau disakiti.  Dan seperti kata Jim Collins, ia menisbatkan kegagalan organisasinya sebagai kelemahan dan kebodohannya, sebaliknya, ia menghadiahkan keberhasilan organisasinya sebagai hasil kerja keras para pengikutnya.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><br />
</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Sehingga ada keyakinan yang terhujam dalam di sanubari setiap pemimpin sejati: </span><em><span style="color: #000000;">”Betapa inginnya kami agar bangsa ini mengetahui bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri.  Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur sebagai penebus bagi kehormatan mereka, jika memang tebusan itu yang diperlukan. Atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan, kemuliaan, dan terwujudnya cita-cita mereka, jika memang itu harga yang harus dibayar &#8230; Kami tidak mengharapkan sesuatupun dari manusia; tidak mengharap harta benda atau imbalan lainnya, tidak juga popularitas, apalagi sekedar ucapan terima kasih &#8230;” </span></em><span style="color: #000000;">(Hasan Al Banna).</span><em><span style="color: #000000;"> </span></em><span style="color: #000000;">Keteguhan dan ketulusan dalam memberi membuat pemimpin sejati tak pernah mati.  Pemimpin sejati terus menasihati dirinya, </span><em><span style="color: #000000;">”The good you do today, people will often forget tomorrow. Do good anyway. Give the world the best you have, and it may never be enough. Give the world the best you’ve got anyway” </span></em><span style="color: #000000;">(Mother Teresa).</span></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariefmunandar.com/archives/280/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemimpin Pembelajar (Bagian 1)</title>
		<link>http://ariefmunandar.com/archives/174</link>
		<comments>http://ariefmunandar.com/archives/174#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 04:53:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arief Munandar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[Published]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariefmunandar.com/?p=174</guid>
		<description><![CDATA[“Man is not the creature of circumstances; circumstances are the creatures of men.” –Benjamin Disraeli– Menurut sebuah pepatah Arab, kita tak akan pernah bisa memberikan apa yang kita tidak punya. Untuk berinfak kita harus beruang. Untuk mengajar kita harus berilmu. Untuk melindungi kita harus kuat. Lalu, untuk memimpin apa yang mesti kita punya? Citra diri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em> </em></p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><em><span style="color: #000000;"><strong><span style="color: #000000;">“Man is not the creature of circumstances; </span></strong></span></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><span style="color: #000000;"><strong><span style="color: #000000;">circumstances are the creatures of men.”</span></strong></span></em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #000000;"><strong><span style="color: #000000;"> –Benjamin Disraeli–</span></strong></span></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Menurut sebuah pepatah Arab, kita tak akan pernah bisa memberikan apa yang kita tidak punya. Untuk berinfak kita harus beruang. Untuk mengajar kita harus berilmu. Untuk melindungi kita harus kuat. Lalu, untuk memimpin apa yang mesti kita punya? Citra diri sebagai manusia merdeka!</span></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span><span id="more-174"></span><span style="color: #000000;"><span style="color: #000000;"><br />
</span> </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Sebelum mampu memimpin orang lain, kemampuan memimpin diri sendiri adalah keniscayaan. Ada yang menyebut kompetensi ini sebagai </span><em><span style="color: #000000;">self-leadership</span></em><span style="color: #000000;">, </span><em><span style="color: #000000;">self-mastery</span></em><span style="color: #000000;">, atau </span><em><span style="color: #000000;">personal mastery</span></em><span style="color: #000000;">. Intinya adalah kemampuan untuk menjadi tuan atas diri sendiri, berangkat dari keyakinan, </span><em><span style="color: #000000;">conviction,</span></em><span style="color: #000000;"> bahwa bukanlah lingkungan yang menciptakan kita, melainkan kitalah yang menciptakan lingkungan, bahwa diri kita adalah subjek sedangkan lingkungan adalah objek, dan bukan sebaliknya. Sebuah kesadaran atas kemerdekaan hakiki, </span><em><span style="color: #000000;">a free will,</span></em><span style="color: #000000;"> yang telah Allah karuniakan, yang membedakan kita dari beragam makhlukNya yang lain, sebagaimana firmanNya: </span><em><span style="color: #000000;">“maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” </span></em><span style="color: #000000;">(QS. Asy Syams: 8-10).</span></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Citra diri sebagai manusia merdeka membuat kita menjadi manusia dengan </span><em><span style="color: #000000;">internal locus of control,</span></em><span style="color: #000000;"> manusia yang meyakini bahwa dirinya adalah penyebab, sekaligus faktor yang bertanggungjawab, atas hasil yang diterimanya. </span><em><span style="color: #000000;">Internal locus of control</span></em><span style="color: #000000;"> merupakan refleksi dari </span><em><span style="color: #000000;">self-responsibility</span></em><span style="color: #000000;">, kemampuan bertanggungjawab atas nasib diri sendiri, yang merupakan cikal-bakal tanggungjawab atas nasib orang banyak. </span><em><span style="color: #000000;">Internal locus of control </span></em><span style="color: #000000;">juga merupakan karakteristik utama dari pribadi yang matang dan dewasa secara emosional dan spiritual.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Citra diri sebagai manusia merdeka merupakan prasyarat menjadi manusia pembelajar, pemimpin pembelajar, satu-satunya spesies pemimpin yang mampu mentransformasikan dirinya menjadi pemimpin jenjang kelima. Dalam konteks ini, citra diri sebagai manusia merdeka menyediakan fondasi yang kokoh bagi terbangunnya mental pembelajaran </span><em><span style="color: #000000;">(learning mental)</span></em><span style="color: #000000;">.  Meminjam model dari Taufik Bahaudin (2001), proses membangun mental pembelajaran dimulai dengan memiliki </span><em><span style="color: #000000;">self-awareness</span></em><span style="color: #000000;">, kesadaran rasional mengenai diri sendiri, pemahaman mengenai kekuatan </span><em><span style="color: #000000;">(strengths)</span></em><span style="color: #000000;">, keterbatasan </span><em><span style="color: #000000;">(non-strengths)</span></em><span style="color: #000000;">, dan kelemahan </span><em><span style="color: #000000;">(weaknesses)</span></em><span style="color: #000000;">, di samping kemampuan membaca posisi diri dalam konteks berbagai faktor dan aktor eksternal. Allah SWT melengkapi kita dengan perangkat-perangkat yang membuat </span><em><span style="color: #000000;">self-awareness</span></em><span style="color: #000000;"> menjadi keniscayaan: panca indera yang mmemungkinkan kita menangkap stimulus, dan otak rasional </span><em><span style="color: #000000;">(neo-cortex)</span></em><span style="color: #000000;"> yang memberi kita kemampuan untuk menganalisis dan mengevaluasi objek yang terekam oleh indera kita. Contoh sederhana, Budi, seorang mahasiswa, melihat pengumuman nilai ujian tengah semester (UTS) salah satu mata kuliah yang diikutinya. Dalam daftar tertera nilai yang diraihnya 50, sementara nilai rata-rata kelas 70. Tanpa banyak mengalami kesulitan otak rasionalnya akan sampai pada kesimpulan, </span><em><span style="color: #000000;">”Nilai saya cukup jauh di bawah rata-rata kelas.”</span></em></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Lalu, apakah Budi akan terdorong belajar lebih keras untuk mencapai nilai akhir yang lebih baik? Belum tentu. Tahu ada yang salah atau kurang tak serta-merta sama dan sebangun dengan dorongan </span><em><span style="color: #000000;">(drive) </span></em><span style="color: #000000;">untuk memperbaikinya. Ada-tidaknya dorongan tersebut ditentukan oleh mampu-tidaknya Budi membangun </span><em><span style="color: #000000;">self-acceptance</span></em><span style="color: #000000;">.  Berbeda dengan membangun </span><em><span style="color: #000000;">self-awareness</span></em><span style="color: #000000;"> yang merupakan proses rasional dan merupakan kerja dari kecerdasan intelektual </span><em><span style="color: #000000;">(intellectual intelligence, IQ)</span></em><span style="color: #000000;">, membangun </span><em><span style="color: #000000;">self-acceptance</span></em><span style="color: #000000;"> merupakan proses emosional, dan bahkan spiritual, melibatkan bukan hanya otak rasional, melainkan kolaborasi harmonis antara otak rasional dengan otak emosional </span><em><span style="color: #000000;">(limbic system)</span></em><span style="color: #000000;">, dan merupakan kerja dari kecerdasan spiritual </span><em><span style="color: #000000;">(spiritual intelligence, SQ).</span></em></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Ditinjau dari sisi yang lebih mendalam, menggunakan konsepsi </span><em><span style="color: #000000;">spiral dynamics </span></em><span style="color: #000000;">(Beck &amp; Cowan, 2004), ada-tidaknya dorongan internal untuk memperbaiki dan meningkatkan diri sangat ditentukan oleh </span><em><span style="color: #000000;">the color or thinking</span></em><span style="color: #000000;">, atau jenjang ’DNA’ Psiko-Sosial Budi, yang menjawab pertanyaan apakah proses kimiawi di otaknya sudah mampu memunculkan nilai kejujuran, mendorong dirinya untuk bertanya </span><em><span style="color: #000000;">”what’s wrong with me?” </span></em><span style="color: #000000;">atau justru menjebaknya dalam pertanyaan </span><em><span style="color: #000000;">”what’s wrong with others?”</span></em><span style="color: #000000;"> Tiadanya </span><em><span style="color: #000000;">self-acceptance</span></em><span style="color: #000000;"> terefleksikan dalam bentuk keyakinan ”kesalahan bukan pada pesawat televisi saya”, atau </span><em><span style="color: #000000;">blaming others mentality</span></em><span style="color: #000000;">. Dampaknya? Luar biasa fatal! Seperti saklar </span><em><span style="color: #000000;">switch-off</span></em><span style="color: #000000;"> yang membuat otak dan pikiran kita tidak bekerja untuk mencari cara meningkatkan diri. Kalau Anda yakin gangguan pada gambar yang ditampilkan pesawat TV anda pada saat menyaksikan sebuah acara kesayangan disebabkan oleh masalah pada stasiun pemancar TV yang bersangkutan, akankah anda pergi ke tempat reparasi untuk memperbaiki pesawat TV anda?  Tentu tidak!  Anda akan berpangku tangan di rumah, sambil berdoa semoga kinerja stasiun pemancar segera membaik.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Menarik untuk dicatat bahwa kemampuan membangun </span><em><span style="color: #000000;">self-acceptance</span></em><span style="color: #000000;"> sama sekali tidak berbanding lurus dengan atribut-atribut seperti usia, tingkat pendidikan, maupun tinggi-rendahnya pangkat dan jabatan. ”Peternakan kambing hitam” ternyata sadar maupun tidak bisa dikembangkan oleh siapa saja. Kebiasaan ”beternak kambing hitam” ini merupakan deklarasi seseorang, walaupun mungkin implisit sifatnya, bahwa dirinya enggan berubah. Dalam keseharian deklarasi itu muncul dalam ungkapan yang jelas polanya: </span><em><span style="color: #000000;">”bukannya saya tidak mau berubah, habis lingkungan sih &#8230;,”</span></em><span style="color: #000000;"> atau </span><em><span style="color: #000000;">”bagaimana mungkin saya bisa berubah dalam kondisi yang tidak mendukung seperti ini,”</span></em><span style="color: #000000;"> atau </span><em><span style="color: #000000;">”saya sebenarnya ingin berubah, tapi &#8230; soalnya &#8230;,” </span></em><span style="color: #000000;">dan beragam kalimat lain yang sejatinya sama dan sebangun. Terhadap orang seperti itu, jangankan orang lain, bahkan Allah-pun enggan membantunya untuk berubah (QS. Ar Ra’d: 11).</span></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Seorang menteri bidang ekonomi dalam kabinet yang berkuasa di awal krisis moneter tahun 1997, seorang profesor doktor, didatangi wartawan yang menanyakan nasib perekonomian Indonesia setelah Korea Selatan yang merupakan salah satu kekuatan ekonomi Asia luluh lantak dihantam badai krisis.  Ia menafikkan kenyataan Indonesia juga tertular krisis dengan mengemukakan segudang data historis tentang prestasi ekonomi kita di masa lampau, antara lain pertumbuhan dan cadangan devisa yang tinggi serta inflasi yang rendah. Ketika itu wartawan hanya bisa mengangguk-angguk dan memuat pernyataan itu sebagai </span><em><span style="color: #000000;">headline</span></em><span style="color: #000000;"> surat kabar mereka keesokan harinya. Dan seiring dengan terus hancurnya rupiah dan perkasanya dolar Amerika, Pemerintah mengeluarkan jurus kelit ”batas psikologis” yang tak jelas dasar konseptualnya. Lucunya lagi, batas psikologis tersebut ikut naik, seiring tak terbendungnya kenaikan nilai dolar, Rp 5.000, Rp 7.500, dan terakhir Rp 10.000.  Bantahan yang kurang-lebih sama ia kemukakan ketika gerombolan wartawan yang sama kembali mendatanginya pada saat ”tetangga sebelah rumah”, Thailand, juga pingsan terinveksi virus krisis. Artinya, jangankan </span><em><span style="color: #000000;">self-acceptance, </span></em><span style="color: #000000;">bahkan </span><em><span style="color: #000000;">self-awareness-</span></em><span style="color: #000000;">pun tak muncul dalam menyikapi krisis tersebut.  Baru setelah dolar menembus batas ”ajaib” Rp 15.000 keluar pernyataan, </span><em><span style="color: #000000;">”kita memang terkena krisis.”</span></em><span style="color: #000000;"> Namun sayangnya, </span><em><span style="color: #000000;">self-acceptance</span></em><span style="color: #000000;"> tak jua muncul, karena pernyataan yang muncul adalah, </span><em><span style="color: #000000;">”ini gara-gara kekuatan asing yang mengobok-obok perekonomian kita,”</span></em><span style="color: #000000;"> atau, </span><em><span style="color: #000000;">”ini gara-gara ulah George Soros.”</span></em><span style="color: #000000;"> Bahwa IMF, kekuatan asing, dan Yahudi menjadikan kita sebagai sasaran tembak dari </span><em><span style="color: #000000;">economic hit team</span></em><span style="color: #000000;"> mereka memang merupakan realita. Tapi, kita hanya akan jadi korban jika kita – sadar maupun tidak – memang menyediakan diri untuk dikorbankan.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Kembali, kejujuran merupakan kata kunci. Mustahil membangun mental pembelajaran, mustahil membentuk pemimpin pembelajar, dan karenanya mustahil pula membangun pemimpin jenjang kelima, tanpa menghujamkan nilai kejujuran dalam sanubari terdalam.  Dalam konteks inilah antara lain, mengapa nilai kejujuran merupakan salah satu nilai operasional </span><em><span style="color: #000000;">(operating value)</span></em><span style="color: #000000;"> yang menjadi pilar nilai integritas, yang merupakan satu dari lima nilai-nilai dasar </span><em><span style="color: #000000;">(primary values)</span></em><span style="color: #000000;"> ideal sebuah institusi.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"> </span></p>
<p><span style="color: #000000;">Eksistensi mental pembelajaran yang mantap dan telah menjadi </span><em><span style="color: #000000;">neural path-way </span></em><span style="color: #000000;">(“software” atau ”pilot otomatis” di otak kita) yang muncul dalam bentuk respon spontan </span><em><span style="color: #000000;">”what’s wrong with me?”</span></em><span style="color: #000000;"> diidentifikasi oleh Collins sebagai salah satu pilar penting dari fenomena pemimpin jenjang kelima: </span><em><span style="color: #000000;">“looks in the mirror, not out the window, to apportion responsibility for poor results, never blaming other people, external factors, or bad luck,” </span></em><span style="color: #000000;"> dan sebaliknya, </span><em><span style="color: #000000;">“looks out the window, not in the mirror, to apportions credit for the success of the company – to other people, external factors, and good luck.”</span></em><span style="color: #000000;"> Jelas bahwa mental pembelajaran merupakan fondasi dari terbangunnya karakter dasar yang seolah-olah paradoksal dari pemimpin jenjang kelima: </span><em><span style="color: #000000;">professional will</span></em><span style="color: #000000;"> dan </span><em><span style="color: #000000;">personal humility</span></em><span style="color: #000000;">. Dampaknya? Dahsyat! </span><em><span style="color: #000000;">Kaizen. Continuous improvement.</span></em></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariefmunandar.com/archives/174/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemimpin Pembelajar (Bagian 2)</title>
		<link>http://ariefmunandar.com/archives/169</link>
		<comments>http://ariefmunandar.com/archives/169#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 04:47:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arief Munandar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Article]]></category>
		<category><![CDATA[Published]]></category>
		<category><![CDATA[Leadership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ariefmunandar.com/?p=169</guid>
		<description><![CDATA[Dan Katakanlah: &#8220;Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. –Al Qur–an, Surat At Taubah (9): 105– Operasionalisasi dari mental pembelajaran adalah perilaku pembelajaran (learning behavior), yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align: center;"><em><strong><span style="color: #000000;">Dan Katakanlah: &#8220;Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya</span></strong></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><strong><span style="color: #000000;">serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu,</span></strong></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><strong><span style="color: #000000;">dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah)</span></strong></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><strong><span style="color: #000000;"> yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata,</span></strong></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><strong><span style="color: #000000;">lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.</span></strong></em></p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="color: #000000;">–Al Qur–an, Surat At Taubah (9): 105–</span></strong></p>
<p><span style="color: #000000;"><br />
</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Operasionalisasi dari mental pembelajaran adalah perilaku pembelajaran </span><em><span style="color: #000000;">(learning behavior)</span></em><span style="color: #000000;">, yang juga harus </span><em><span style="color: #000000;">embedded </span></em><span style="color: #000000;"> dalam diri seseorang untuk menjadi pemimpin jenjang kelima.  Kita berangkat dari keyakinan dasar potensi untuk menjadi pemimpin jenjang kelima itu sudah dititipkan Allah dalam diri setiap kita.  Perilaku pembelajaran, dengan dasar mental pembelajaran, akan membuat setiap peristiwa yang kita alami menjadi </span><em><span style="color: #000000;">trigger</span></em><span style="color: #000000;">, stimulan, bagi proses aktualisasi potensi tersebut. Ada dasar keyakinan di balik itu: </span><em><span style="color: #000000;">nothing happens by chance. </span></em><span style="color: #000000;"> Di balik setiap peristiwa yang kita alami pasti ada pesan dari Allah untuk kita jadikan pelajaran.<span id="more-169"></span><br />
</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><br />
</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Suatu hari Nabi SAW keluar dari rumahnya untuk bepergian. Namun belum jauh melangkah kaki beliau tersandung batu hingga putuslah tali terompahnya. Kejadian yang begitu sederhana itu membuat beliau tertegun dan merenung di tepi jalan, </span><em><span style="color: #000000;">”Kesalahan apa yang telah kuperbuat sehingga Allah memperingatkanku dengan putusnya tali terompahku ini?”</span></em><span style="color: #000000;"> Subhanallah!  Sebuah demonstrasi luar biasa dari kualitas pemimpin jenjang kelima, pemimpin pembelajar. Jika ditarik agak jauh sedikit, apakah perilaku para pimpinan bangsa ini dalam merespon berbagai musibah yang tak kecil:  tsunami Aceh dan Nias, lumpur Sidoarjo, gempa Yogyakarta-Jawa Tengah, kerusuhan Poso, banjir yang melanda berbagai wilayah negeri, kecelakaan transportasi yang tak kunjung surut, dan sejumlah besar bencana lainnya, telah menunjukkan kualitas mereka sebagai pemimpin pembelajar? </span><em><span style="color: #000000;">Wallahu ’alam. </span></em><span style="color: #000000;">Yang jelas, </span><em><span style="color: #000000;">every society gets leader it deserves, </span></em><span style="color: #000000;">pemimpin pembelajar hanyalah milik bangsa pembelajar.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><br />
</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Perilaku pembelajaran merupakan siklus yang diawali dari </span><em><span style="color: #000000;">observe,</span></em><span style="color: #000000;"> perilaku menyimak </span><em><span style="color: #000000;">(listening)</span></em><span style="color: #000000;"> dan mengakumulasikan segenap fakta dan data, tanpa prasangka. Demikian berbahayanya prasangka, hingga Allah memperingatkan: </span><em><span style="color: #000000;">”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa &#8230;”</span></em><span style="color: #000000;"> (QS. Al Hujuraat: 12). </span><em><span style="color: #000000;">Observe </span></em><span style="color: #000000;">adalah perilaku mendengar dengan fokus pada sumber informasi, melibatkan seluruh indera, sehingga mampu menangkap bahasa nonverbal dan </span><em><span style="color: #000000;">meta-messages</span></em><span style="color: #000000;">, </span><em><span style="color: #000000;">to read between the lines, </span></em><span style="color: #000000;">tanpa ketergesaan untuk memilah, menganalisis, atau menyimpulkan. Jadi, pemimpin pembelajar mestilah seorang </span><em><span style="color: #000000;">great listener</span></em><span style="color: #000000;">, yang memusatkan perhatian pada apa yang dikatakan, bukan pada siapa yang mengatakan, dan bagaimana pesan tersebut dikatakan.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><br />
</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Tahap selanjutnya adalah </span><em><span style="color: #000000;">assess</span></em><span style="color: #000000;">, mengkaji, menganalisis.  Jika </span><em><span style="color: #000000;">observe</span></em><span style="color: #000000;"> menjawab pertanyaan </span><em><span style="color: #000000;">”what?”</span></em><span style="color: #000000;"> maka </span><em><span style="color: #000000;">assess</span></em><span style="color: #000000;"> menjawab pertanyaan </span><em><span style="color: #000000;">“why?’</span></em><span style="color: #000000;"> .  Sampai di tahap ini kian jelas mengapa membangun mental pembelajaran harus mendahului perilaku pembelajaran.  Tanpa dasar mental pembelajaran yang kokoh, pertanyaan </span><em><span style="color: #000000;">“why?”</span></em><span style="color: #000000;"> hanya akan menjadi pemicu munculnya serentetan “kambing hitam”. Namun sebaliknya, mental pembelajaran akan membuat kita </span><em><span style="color: #000000;">look in the mirror,</span></em><span style="color: #000000;"> mencari tahu dan kemudian menemukan </span><em><span style="color: #000000;">area of improvements</span></em><span style="color: #000000;"> dalam diri kita sendiri.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><br />
</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Dalam praktek, tinggi-rendahnya kualitas </span><em><span style="color: #000000;">assessment</span></em><span style="color: #000000;"> tergantung pada kelengkapan, keragaman, dan ketajaman ”pisau analisis” yang digunakan. Konon kisahnya ada seorang kepala suku dari sebuah suku yang agak terbelakang di kawasan Malaysia Timur di masa penjajahan Inggris diundang bertandang ke Singapura oleh pemerintah kolonial untuk melakukan studi banding. Selama kunjungan banyak sekali yang ia lihat: pelabuhan, gedung-gedung pemerintahan, jalan raya, pasar, dan pusat-pusat keramaian lainnya.  Saat pulang kampung dikumpulkannya seluruh anggota sukunya dan dia berkata, </span><em><span style="color: #000000;">“Sekarang kutahu mengapa Singapura lebih maju dari kita. Ternyata rahasianya hanya karena mereka menggunakan gerobak untuk mengangkut bertandan-tandan pisang sekaligus!”</span></em></p>
<p><span style="color: #000000;"><br />
</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Mengapa kesimpulannya begitu sederhana? Usut punya usut ternyata makanan pokok suku tersebut adalah pisang yang biasa dibiarkan tumbuh liar di tepi hutan. Setiap ada tandan pisang yang matang, mereka angkut pulang dengan cara memanggulnya, sehingga hanya sedikit sekali tandan pisang yang bisa mereka bawa. Nah, dalam kunjungannya ke Singapura, sang Kepala Suku secara tak sengaja melihat bagaimana orang menurunkan pisang dari truk besar dan membawanya ke dalam pasar dengan kotak beroda yang belakangan diketahuinya bernama gerobak. Semua pemandangan lain yang dia lihat di Singapura menjadi tak berarti dan tak menempel dalam pikirannya karena tak ada “pengait” seperti pisang yang terhubung dengan gerobak. Pesan dari cerita ini tentulah sangat jelas. Semakin sedikit “pisang” yang kita ketahui, semakin sedikit pula fakta dan data yang bermakna buat kita. Kaidahnya mengatakan, </span><em><span style="color: #000000;">we see what we are supposed to see. We see poorly, or not at all, data does not fit into our current paradigm.  We don’t know what we don’t know. </span></em><span style="color: #000000;">Karenanya, jangan pernah berhenti mencari “pisang-pisang baru”, sehingga analisis kita semakin berkualitas. Dalam konteks ini dapat dipahami kredo yang mengatakan: </span><em><span style="color: #000000;">“This is the era for the leaders who read.”</span></em><span style="color: #000000;"> Membaca adalah salah satu cara jitu untuk memastikan bahwa kita tidak terpaku pada “pisang” yang lama.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><br />
</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Langkah ketiga adalah </span><em><span style="color: #000000;">design</span></em><span style="color: #000000;">, merancang alternatif respon paling optimal. Di samping kualitas analisis data dan fakta yang dilakukan di tahap sebelumnya, kualitas </span><em><span style="color: #000000;">design</span></em><span style="color: #000000;"> juga sangat ditentukan oleh kemampuan berpikir </span><em><span style="color: #000000;">out-of-the box.</span></em><span style="color: #000000;"> Ingatlah selalu ungkapan yang mengatakan, </span><em><span style="color: #000000;">“hanya orang gila yang mengharapkan hasil yang berbeda dari cara yang sama”. </span></em><span style="color: #000000;"> Prinsipnya, kita harus konsisten dengan visi dan tujuan, namun jangan pernah konsisten dengan cara.  Ada banyak jalan menuju Mekah!  Namun, kualitas </span><em><span style="color: #000000;">design</span></em><span style="color: #000000;"> juga tak bisa dilepaskan dari kemampuan berpikir serba-sistem </span><em><span style="color: #000000;">(systems thinking)</span></em><span style="color: #000000;">, yang membuat kita berpikir holistik dan integral, mempertimbangkan hubungan saling keterkaitan antar setiap faktor. Ketika berencana mengubah suatu faktor secara otomatis kita berpikir kemungkinan dampaknya, baik terhadap faktor-faktor lain, maupun terhadap sistem secara keseluruhan, dan bahkan terhadap visi yang ingin diwujudkan atau tujuan yang hendak dicapai.  Jadi, pemimpin pembelajar adalah juga mereka yang </span><em><span style="color: #000000;">open minded</span></em><span style="color: #000000;"> dan berpikir serba-sistem.</span></p>
<p><span style="color: #000000;"><br />
</span></p>
<p><span style="color: #000000;">Ada cerita lainnya. Kali ini tentang sepuluh ekor burung yang sedang hinggap di atas pagar. Mereka bercakap-cakap, bersenda-gurau. Sayangnya kita tak tahu apa yang mereka perbincangkan, karena yang paham hanyalah mereka sendiri, Nabi Sulaiman AS, dan Allah SWT. Tiba-tiba kesepuluh burung itu melihat seekor cacing yang gemuk dan montok keluar dari dalam tanah. Terbitlah rasa lapar mereka.  Karena itu mereka memutuskan untuk memangsa cacing itu.  Pertanyaannya: </span><em><span style="color: #000000;">ada berapa burung yang tersisa bertengger di atas pagar?</span></em><span style="color: #000000;"> Kalau jawaban anda kurang dari sepuluh, jawaban itu salah. Ya! Jawabannya adalah sepuluh!  Mengapa?  Karena burung-burung itu baru memutuskan. Coba ingat-ingat lagi, betapa seringnya dalam hidup kita tak henti-hentinya menimbang, mengingat, memutuskan, lalu kembali menimbang, mengingat, dan memutuskan, dan kembali lagi menimbang, mengingat, memutuskan, tanpa pernah melaksanakan. Adakah yang berubah? Tidak!  Banyak orang pintar yakin bahwa rencana keputusan untuk memindahkan bukit akan membuat bukit itu bergeser. Mereka lupa bahwa traktorlah yang memindahkan bukit. Implementasi, </span><em><span style="color: #000000;">action</span></em><span style="color: #000000;">, adalah tahap terakhir yang menentukan hasil dari suatu siklus perilaku pembelajaran. </span><em><span style="color: #000000;">Action, action, action! </span></em><span style="color: #000000;"> Gagal? Siapa takut?!  Ingatlah, </span><em><span style="color: #000000;">success truly is the result of good judgment.  Good judgment is the result of experience, and experience is often the result of bad judgment. </span></em><span style="color: #000000;"> Thomas Alfa Edison mengatakan, </span><em><span style="color: #000000;">“I am not discouraged, because every wrong attempt discarded is another step forward.” </span></em><span style="color: #000000;">Jadi, </span><em><span style="color: #000000;">just do it!</span></em></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ariefmunandar.com/archives/169/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
